Ketegangan Memuncak di Tengah Pramusim Chelsea
Bek kanan Chelsea, Malo Gusto, menjadi sorotan setelah pernyataannya yang menggambarkan rasa frustrasinya karena merasa tidak dihormati. Dalam suasana pramusim yang seharusnya menjadi ajang pemanasan dan persiapan, pemain muda asal Prancis itu justru menyinggung soal sikap yang menurutnya tidak pantas diterimanya.
“Saya merasa seperti tidak dipedulikan, dan itu menyakitkan,” ujar Gusto saat menjawab pertanyaan wartawan. Meski tak secara gamblang menjelaskan siapa atau apa yang memicu kemarahannya, nadanya jelas menunjukkan adanya ketegangan di balik layar Stamford Bridge.
Muda, Berbakat, tapi Ingin Dihargai
Didatangkan dari Lyon dengan harapan besar, Malo Gusto memang menunjukkan potensi luar biasa di usia yang masih sangat muda. Ia sempat mendapat menit bermain yang cukup saat Reece James cedera, dan tampil dengan performa meyakinkan. Namun, seiring berjalannya waktu, Gusto tampak merasa tidak mendapatkan pengakuan setimpal.
Pemain berusia 21 tahun ini menekankan pentingnya rasa saling menghormati di dalam tim. “Saya tak meminta perlakuan istimewa, hanya ingin diperlakukan sebagaimana mestinya,” katanya. Kata-kata ini mengindikasikan bahwa masalahnya bukan soal teknis di lapangan, melainkan lebih pada dinamika internal dan relasi antar individu.
Suara Hati yang Menuntut Perhatian Malo Gusto

Gusto tampaknya ingin memperjelas bahwa ia bukan sekadar pelengkap di skuad The Blues. Dengan mentalitas kompetitif dan hasrat untuk berkembang, ia menegaskan bahwa ia ingin peran yang lebih nyata dalam proyek jangka panjang klub. “Saya datang ke sini untuk belajar, bertumbuh, dan membantu tim. Tapi jika tidak ada penghargaan, semangat itu bisa luntur,” ungkapnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa sang pemain tak segan menyuarakan keresahannya secara terbuka—sebuah langkah berani yang jarang dilakukan oleh pemain muda, terlebih di klub sebesar Chelsea.
Maresca dalam Tekanan untuk Kelola Ego Malo Gusto
Pelatih anyar Enzo Maresca kini punya tantangan baru dalam membangun harmoni tim. Kehadiran Gusto sebagai bagian dari regenerasi Chelsea perlu dikelola dengan cermat. Komunikasi yang terbuka dan kepercayaan timbal balik sangat penting agar pemain muda tidak merasa terpinggirkan, apalagi sampai kehilangan motivasi.
Apalagi, dalam sistem permainan modern yang mengandalkan full-back sebagai elemen penting dalam serangan maupun bertahan, peran Gusto sebenarnya bisa sangat vital. Maka, rasa kecewa yang ia ungkapkan bisa menjadi sinyal bagi Maresca untuk meninjau ulang pendekatan terhadap para pemain mudanya.
Potensi Meledak atau Malah Meredup?
Situasi ini membuka dua kemungkinan: Gusto bisa bangkit dengan semangat membara dan menjawab semuanya lewat performa di lapangan, atau justru kehilangan arah karena merasa tak didukung sepenuhnya. Klub perlu bergerak cepat sebelum kekecewaan pribadi berubah menjadi krisis tim.
Mengingat musim kompetisi belum dimulai, masih ada ruang bagi Chelsea dan Gusto untuk menyelesaikan masalah ini secara dewasa. Yang jelas, suara hati sang bek telah terdengar—tinggal bagaimana pihak klub menanggapinya
